Misalnya, permintaan pembelian yang sebelumnya hanya memerlukan dua tahapan kini melibatkan beberapa pihak tambahan. Atau sebuah laporan harus dipindahkan dari satu spreadsheet ke spreadsheet lain sebelum akhirnya diproses. Setiap langkah mungkin terlihat sederhana, tetapi jika terjadi setiap hari, akumulasi waktunya menjadi signifikan.
Process improvement membantu perusahaan meninjau kembali setiap tahapan agar alur kerja tetap relevan dengan kebutuhan operasional saat ini.
Mengidentifikasi Langkah yang Tidak Memberikan Nilai Tambah
Perbaikan proses tidak selalu berarti mengubah seluruh cara kerja. Sering kali, hasil yang lebih baik diperoleh dengan memahami tahapan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang dapat disederhanakan.
Beberapa hal yang layak dievaluasi antara lain:
Aktivitas yang dilakukan lebih dari satu kali oleh tim berbeda.
Proses input data yang berulang.
Persetujuan yang tidak memerlukan tingkat otorisasi tinggi.
Perpindahan dokumen yang terlalu banyak.
Waktu tunggu antar proses yang cukup panjang.
Sebagai contoh, sebuah divisi operasional menerima permintaan layanan melalui email, kemudian mencatat ulang ke spreadsheet, lalu memasukkannya kembali ke aplikasi internal. Dengan menghubungkan proses tersebut dalam satu alur kerja, aktivitas administrasi menjadi lebih ringkas tanpa mengubah tujuan bisnis yang ingin dicapai.
Menyusun Perbaikan Berdasarkan Proses Nyata
Perbaikan proses akan lebih efektif apabila didasarkan pada aktivitas yang benar-benar terjadi di lapangan. Karena itu, setiap perubahan sebaiknya diawali dengan pemetaan alur kerja yang sedang berjalan.
Tahapan yang dapat dilakukan meliputi:
Mengidentifikasi awal dan akhir setiap proses.
Menentukan pihak yang bertanggung jawab pada setiap tahapan.
Mencatat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap aktivitas.
Mengamati titik perpindahan dokumen atau informasi.
Mendiskusikan kendala bersama tim yang menjalankan proses setiap hari.
Sebagai ilustrasi, proses persetujuan pengadaan barang dapat dipetakan mulai dari pengajuan, pemeriksaan anggaran, persetujuan manajer, hingga penerbitan pesanan. Dari pemetaan tersebut, perusahaan dapat melihat apakah terdapat tahapan yang dapat digabungkan atau dijalankan secara lebih efisien.
Mendukung Efisiensi dengan Alur Kerja yang Terhubung
Setelah proses dipahami dengan baik, perusahaan dapat mulai membangun alur kerja yang lebih terintegrasi sehingga setiap aktivitas saling terhubung.
Pendekatan ini dapat mendukung berbagai kebutuhan operasional, seperti:
Penugasan otomatis kepada PIC yang sesuai.
Status pekerjaan yang diperbarui secara bertahap.
Notifikasi ketika proses berpindah ke tahapan berikutnya.
Dokumentasi aktivitas dalam satu histori proses.
Dashboard untuk memantau progres pekerjaan.
Jika proses mulai melibatkan banyak divisi dan aktivitas berlangsung secara bersamaan, perusahaan dapat mempertimbangkan platform seperti BYON untuk membantu menghubungkan workflow automation, monitoring proses, dan dokumentasi aktivitas dalam satu sistem yang lebih mudah dipantau.
Perbaikan Proses Adalah Upaya yang Berkelanjutan
Process improvement bukan proyek yang dilakukan satu kali, melainkan bagian dari pengembangan operasional yang terus berlangsung. Kebutuhan bisnis, jumlah pelanggan, maupun struktur organisasi akan terus berubah sehingga proses kerja juga perlu dievaluasi secara berkala.
Dengan melakukan peninjauan secara konsisten, perusahaan dapat memahami proses mana yang sudah berjalan efektif dan area mana yang masih memiliki peluang untuk disederhanakan. Pendekatan ini membantu menciptakan alur kerja yang lebih efisien, mudah dipahami oleh seluruh tim, serta mampu mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.





